Di tengah gencarnya inovasi teknologi pendidikan yang menawarkan pembelajaran massal dan daring, metode Sorogan di pesantren tetap menjadi Warisan Pendidikan Klasik yang relevan dan esensial. Sorogan adalah sistem pengajaran individual di mana santri menghadap guru (kyai atau ustadz) satu per satu untuk menyetor hafalan atau bacaan Kitab Kuning. Keberlangsungan Warisan Pendidikan Klasik ini membuktikan bahwa ada dimensi pembelajaran yang tidak dapat digantikan oleh platform digital: bimbingan personal yang mendalam, transfer adab (etika), dan ta’lim (transfer ilmu) yang teruji kualitasnya. Metode ini adalah Warisan Pendidikan Klasik yang paling efektif dalam mencetak ulama dan cendekiawan yang berintegritas.
Salah satu alasan utama mengapa Sorogan tetap relevan adalah kemampuannya menawarkan personalized learning sejati. Di era digital, meskipun personalisasi dapat dilakukan melalui algoritma, Sorogan memberikan bimbingan yang adaptif berdasarkan pemahaman intuitif guru terhadap kondisi psikologis dan intelektual santri saat itu juga. Guru dapat menyesuaikan kecepatan, kedalaman materi, dan fokus koreksi untuk setiap individu, sebuah kelebihan yang sangat penting dalam penguasaan bahasa Arab klasik dan ilmu-ilmu dirayah (ilmu penalaran) yang kompleks. Pondok Pesantren Assalafi di Cirebon, yang juga menerapkan sistem e-learning, tetap mewajibkan Sorogan untuk kitab Nahwu dan Shorof setiap hari Jumat pagi, mengakui bahwa hanya face-to-face correction yang dapat memastikan akurasi gramatikal.
Selain akademik, Sorogan mentransfer adab dan barakah. Dalam momen personal tersebut, santri tidak hanya dinilai kemampuan intelektualnya, tetapi juga etika dan sikap hormatnya kepada guru. Ini adalah aspek pembentukan karakter yang krusial dan tidak bisa diukur oleh learning management system mana pun. Transfer etika ini menghasilkan integritas yang kuat. Lembaga Pelatihan Kepemimpinan Nasional (LPKN), dalam studi kasus integritas pemimpin pada Oktober 2025, mencatat bahwa alumni pesantren yang menjalani pendidikan berbasis Sorogan menunjukkan kepatuhan etis yang lebih tinggi dalam situasi tekanan, karena mereka memiliki adab dan self-control yang tertanam kuat.
Relevansi Sorogan di era digital bahkan dapat diperluas. Beberapa pesantren kini telah mulai mengadaptasi Sorogan melalui platform video online untuk santri yang berada di luar negeri, mempertemukan efisiensi digital dengan kualitas bimbingan personal. Namun, esensi kontak langsung sebagai Warisan Pendidikan Klasik tetap menjadi yang utama.
Secara keseluruhan, metode Sorogan bertahan sebagai Warisan Pendidikan Klasik bukan karena menolak kemajuan, melainkan karena menawarkan kualitas pembelajaran yang tak tertandingi: personalisasi sejati, transfer spiritual, dan pembentukan adab yang kokoh. Metode ini membuktikan bahwa bimbingan hati ke hati antara guru dan murid adalah investasi terbaik dalam mencetak karakter dan intelektual yang berintegritas.