Ponpes Dayah Darul Ilham

Mendidik dengan Ilmu, Membentuk dengan Adab

Pondok pesantren tradisional mengandalkan dua Kunci Pembelajaran utama untuk mentransfer ilmu agama dari generasi ke generasi: Sorogan dan Bandongan. Kedua metode ini, meskipun saling melengkapi, memiliki karakteristik dan tujuan yang berbeda. Bandongan adalah metode klasikal di mana Kiai membaca dan menjelaskan kitab secara kolektif, sementara Sorogan adalah proses individual di mana santri menguji pemahaman mereka secara tatap muka. Memahami kapan dan bagaimana kedua Kunci Pembelajaran ini diterapkan sangat penting untuk mengapresiasi keunikan kurikulum pesantren.

Bandongan, atau sering disebut Wetonan, adalah Kunci Pembelajaran yang berfokus pada kecepatan dan keluasan penyampaian materi. Dalam Bandongan, Kiai membacakan kitab—misalnya Shahih Bukhari atau Tafsir Jalalain—sementara santri menyimak dan membuat catatan (makna gandul) pada kitab mereka masing-masing. Metode ini sangat efektif untuk mengkhatamkan kitab-kitab tebal dalam waktu singkat. Bandongan biasanya diikuti oleh ratusan santri secara bersamaan, menjadikannya sarana yang efisien untuk transfer sanad (mata rantai keilmuan) dari guru. Sebagai contoh, di Pesantren Al-Amanah Fiktif, pengajian Bandongan kitab hadis besar dijadwalkan setiap Sabtu pagi selama tiga jam non-stop.

Sebaliknya, Sorogan adalah Kunci Pembelajaran yang menekankan kedalaman dan kualitas pemahaman personal. Metode ini mewajibkan santri untuk menyodorkan kitabnya kepada guru secara individu, membaca teks, dan menjelaskan i’rab (analisis tata bahasa) atau pemahaman fikihnya. Sorogan adalah sistem evaluasi yang ketat dan personal, memastikan santri tidak hanya mencatat, tetapi benar-benar menguasai ilmu. Sorogan biasanya diterapkan pada kitab-kitab dasar dan menengah, seperti Matan Jurumiyah dan Alfiyah Ibnu Malik, dan dilakukan setiap hari di waktu-waktu luang, misalnya setelah salat Magrib atau Subuh.

Sinergi antara Sorogan dan Bandongan menciptakan sistem pendidikan yang seimbang. Bandongan menyediakan kerangka teoritis yang luas dan cepat, sementara Sorogan menjamin bahwa teori tersebut benar-benar dicerna dan dipraktikkan oleh setiap santri. Penelitian Komparatif Metode Belajar Fiktif yang dilakukan oleh Lembaga Pendidikan dan Penelitian (LPP) Islam pada Kamis, 18 April 2024, menyimpulkan bahwa kombinasi kedua metode ini menghasilkan tingkat retensi materi $70\%$ (fiktif) lebih tinggi pada santri yang aktif di kedua sesi tersebut. Dengan demikian, pesantren berhasil mengoptimalkan waktu dan tenaga Kiai untuk Bandongan dan memastikan pemahaman santri melalui Sorogan.