Kegiatan bersih-bersih di lingkungan pesantren mungkin terlihat sebagai aktivitas fisik biasa bagi orang luar, namun di Dayah Darul Ilham, kegiatan ini memiliki dimensi pendidikan karakter yang sangat dalam. Dikenal dengan istilah roan, aktivitas kerja bakti massal ini menjadi ajang untuk memperkuat Solidaritas Roan di antara seluruh penghuni pesantren. Di sini, memungut sampah, membersihkan selokan, hingga mengecat dinding bukan sekadar beban tugas, melainkan sarana untuk meluruhkan ego pribadi demi kepentingan bersama yang lebih besar.
Filosofi utama dari kegiatan ini di Dayah Darul Ilham adalah tentang kesetaraan. Dalam roan, tidak ada perbedaan antara santri yang cerdas di kelas dengan santri yang mahir di lapangan. Semuanya memegang sapu atau cangkul yang sama. Kebersamaan dalam bekerja di bawah terik matahari atau siraman gerimis menciptakan ikatan persaudaraan yang tak terpatahkan. Melalui aktivitas ini, pesantren sedang Memupuk Kerjasama yang sangat nyata. Santri belajar bahwa beban yang berat akan terasa ringan jika dipikul bersama, dan sebuah tujuan besar hanya bisa dicapai melalui koordinasi yang baik antar-anggota tim.
Penerapan disiplin kebersihan di Darul Ilham juga berkaitan erat dengan ajaran agama tentang kesucian. Santri dididik untuk mencintai lingkungan tempat mereka menuntut ilmu. Lingkungan yang asri dan bersih dianggap sebagai cerminan dari hati yang jernih. Oleh karena itu, roan dilakukan dengan penuh kesadaran dan kegembiraan. Seringkali, momen ini diiringi dengan canda tawa yang sehat, yang justru semakin mempererat silaturahmi. Di sinilah letak keunikan pendidikan pesantren; mereka mampu mengubah tugas yang melelahkan menjadi sebuah kegiatan sosial yang menyenangkan dan penuh berkah.
Dampak psikologis bagi santri sangatlah luas. Dengan aktif berpartisipasi dalam roan, santri melatih empati mereka. Mereka menjadi lebih peka terhadap kondisi sekelilingnya. Mereka belajar untuk tidak menjadi pribadi yang apatis atau hanya mau menikmati fasilitas tanpa mau berkontribusi dalam perawatannya. Rasa memiliki (sense of belonging) terhadap Darul Ilham tumbuh subur melalui keringat yang mereka curahkan untuk merawat bangunan asrama dan masjid. Karakter pengabdian inilah yang nantinya akan membuat mereka menjadi pemimpin masyarakat yang responsif dan bertanggung jawab di masa depan.