Di antara berbagai jenis puasa sunnah, puasa Nabi Daud—yaitu sehari berpuasa dan sehari tidak—dianggap sebagai salah satu metode tirakat yang paling tinggi tingkat kesulitannya namun memiliki manfaat kesehatan yang luar biasa. Di lembaga Darul Ilham, praktik ini dijadikan sebagai sarana pembentukan karakter sekaligus bagian dari Seni Berpuasa Daud. Metode ini dipandang sebagai cara yang paling proporsional untuk melatih kendali diri tanpa mengabaikan kebutuhan fisik. Dengan ritme yang selang-seling, tubuh diberikan kesempatan untuk melakukan perbaikan sel secara berkala namun tetap mendapatkan asupan energi yang cukup untuk aktivitas belajar yang intensif.
Secara biologis, puasa selang-seling atau alternate-day fasting telah menjadi subjek penelitian modern yang populer karena kemampuannya dalam melakukan pembersihan sel. Di Darul Ilham, para santri diberikan pemahaman bahwa saat mereka berpuasa, tubuh memasuki fase autofagi, di mana sel-sel yang rusak dihancurkan dan diganti dengan yang baru. Inilah esensi dari edukasi detoksifikasi tubuh, di mana racun-racun sisa metabolisme dibuang secara alami tanpa bantuan obat-obatan kimia. Proses ini sangat membantu meningkatkan metabolisme dan menjaga berat badan ideal bagi para santri, sehingga mereka tetap bugar dalam menjalankan rutinitas yang menuntut mobilitas fisik dan pikiran.
Dampak dari praktik ini sangat terasa pada kejernihan pikiran. Santri di Darul Ilham yang merutinkan puasa Daud melaporkan bahwa mereka merasa lebih mudah untuk fokus dan menghafal teks-teks sulit. Hal ini terjadi karena saat perut kosong dalam durasi tertentu, otak memproduksi protein yang disebut Brain-Derived Neurotrophic Factor (BDNF) yang berfungsi mendukung kesehatan saraf dan meningkatkan fungsi kognitif. Dengan demikian, puasa bukan lagi dianggap sebagai beban yang melemahkan, melainkan sebuah strategi cerdas untuk mengoptimalkan potensi intelektual melalui pendekatan biologis yang disyariatkan oleh agama.
Selain manfaat fisik, pendidikan di Darul Ilham juga menyoroti aspek stabilitas emosional. Puasa Daud melatih seseorang untuk tidak diperbudak oleh keinginan perut dan hawa nafsu secara terus-menerus. Setiap hari tidak berpuasa adalah latihan syukur, dan setiap hari berpuasa adalah latihan sabar. Kesinambungan antara syukur dan sabar ini menciptakan harmoni dalam jiwa santri. Mereka menjadi pribadi yang lebih tenang, tidak reaktif terhadap masalah, dan memiliki disiplin waktu yang sangat ketat karena harus mengatur jadwal makan dan ibadah secara presisi. Ketahanan mental yang terbentuk menjadi benteng kuat dalam menghadapi godaan gaya hidup konsumtif di luar pesantren.