Ponpes Dayah Darul Ilham

Mendidik dengan Ilmu, Membentuk dengan Adab

Di tengah gempuran metode pembelajaran modern, pesantren tetap mempertahankan sistem pendidikan yang telah teruji selama berabad-abad. Dua dari metode pembelajaran yang paling ikonik dan efektif adalah sorogan dan bandongan, sebuah tradisi khas yang menjadi ciri khas pesantren di Indonesia. Sistem ini tidak hanya mentransfer ilmu pengetahuan dari guru ke murid, tetapi juga membangun hubungan batin yang kuat dan menumbuhkan kedisiplinan yang tinggi. Memahami kedua metode ini adalah kunci untuk mengapresiasi keunikan dan kedalaman pendidikan di pesantren.

Metode Sorogan dan Bandongan: Tradisi Khas dalam Pembelajaran Agama di Pesantren

Metode sorogan adalah proses pembelajaran di mana santri secara individu menghadap guru (kyai) untuk menyetorkan bacaan atau hafalan dari kitab yang sedang dipelajari. Istilah “sorogan” berasal dari bahasa Jawa sorong yang berarti mendorong atau menyodorkan, merujuk pada santri yang menyodorkan kitabnya kepada guru. Melalui metode ini, guru dapat memberikan perhatian penuh kepada setiap santri, mengoreksi kesalahan bacaan, dan menjelaskan makna yang lebih dalam secara personal. Interaksi satu lawan satu ini memungkinkan guru untuk mengukur tingkat pemahaman santri secara akurat dan memberikan bimbingan yang sesuai dengan kebutuhan masing-masing.

Di sisi lain, metode bandongan adalah kebalikan dari sorogan. Dalam metode ini, guru membaca, menerjemahkan, dan menjelaskan isi kitab kepada sekelompok besar santri. Santri akan duduk melingkar di sekeliling guru, mendengarkan dengan saksama dan membuat catatan pada kitab masing-masing. Metode ini sangat efisien untuk menyampaikan informasi kepada banyak santri sekaligus dan memberikan gambaran umum tentang isi kitab. Meskipun bersifat kolektif, bandongan tetap menuntut konsentrasi tinggi dari para santri. Kombinasi dari kedua metode ini menciptakan sebuah siklus pembelajaran yang komprehensif, di mana santri mendapatkan pemahaman kolektif melalui bandongan dan kemudian memperdalamnya secara individu melalui sorogan.

Sistem tradisi khas ini bukan hanya tentang penguasaan materi, tetapi juga tentang pembentukan karakter. Metode sorogan mengajarkan santri untuk menjadi pribadi yang berani, disiplin, dan bertanggung jawab. Mereka harus mempersiapkan diri dengan baik sebelum menghadap guru, dan proses ini menanamkan etos belajar yang kuat. Sementara itu, bandongan melatih santri untuk memiliki daya konsentrasi yang tinggi dan kemampuan mendengarkan yang baik. Kedua metode ini juga membangun hubungan yang sangat erat antara santri dan guru, yang menjadi tradisi khas di pesantren.

Sebuah laporan dari lembaga penelitian pendidikan di Jakarta pada tanggal 22 September 2025, menyoroti efektivitas kedua metode ini. Menurut laporan tersebut, lulusan pesantren yang dilatih dengan metode sorogan dan bandongan menunjukkan tingkat kedalaman pemahaman agama yang luar biasa. Laporan tersebut juga mencatat bahwa tradisi ini membentuk santri menjadi individu yang disiplin dan memiliki etos belajar seumur hidup. Dengan demikian, metode sorogan dan bandongan bukan hanya cara kuno dalam mengajar, tetapi sebuah sistem pendidikan yang terbukti relevan dan efektif dalam mencetak individu yang berilmu dan berakhlak mulia.