Ponpes Dayah Darul Ilham

Mendidik dengan Ilmu, Membentuk dengan Adab

Pondok pesantren adalah lembaga pendidikan yang kuat berkat metode pengajaran tradisional yang memfasilitasi interaksi intensif antara kyai dan santri. Model pembelajaran ini bukan sekadar transfer ilmu pengetahuan, melainkan sebuah jalinan batin yang membentuk karakter, moral, dan kedalaman spiritual santri. Metode pengajaran tradisional ini menciptakan lingkungan belajar yang personal dan mendalam, di mana bimbingan kyai terasa dekat dan berkelanjutan. Sebuah studi dari Pusat Studi Pendidikan Tradisional Islam di Yogyakarta pada 18 Juni 2025 menunjukkan bahwa interaksi langsung ini meningkatkan pemahaman santri hingga 25%.

Salah satu inti dari metode pengajaran tradisional ini adalah sistem bandongan atau wetonan. Dalam sesi ini, kyai atau ustaz membacakan dan menjelaskan isi kitab kuning, sementara santri menyimak dan menuliskan catatan (ngesuk/ngelogat) pada kitab mereka. Interaksi terjadi ketika kyai menjelaskan konsep-konsep yang rumit, memberikan contoh, dan kadang-kadang mengajukan pertanyaan retoris yang merangsang pemikiran santri. Meskipun dalam kelompok besar, kehadiran fisik kyai dan aura keilmuannya menciptakan fokus yang intens dan rasa hormat yang mendalam.

Kemudian, ada metode sorogan, di mana interaksi menjadi jauh lebih personal. Santri secara bergantian menghadap kyai atau ustaz secara langsung, membacakan bagian kitab yang telah mereka pelajari, dan menjawab pertanyaan. Kyai akan mengoreksi bacaan, hafalan, dan pemahaman santri satu per satu. Metode pengajaran tradisional ini memungkinkan kyai untuk mengidentifikasi kesulitan spesifik setiap santri dan memberikan bimbingan yang sangat personal. Kedekatan ini membangun kepercayaan diri santri dan rasa memiliki terhadap ilmu yang mereka pelajari. Sebagai contoh, di Pondok Pesantren Lirboyo, Kediri, Jawa Timur, sorogan adalah fondasi utama yang memastikan setiap santri menguasai materi secara individual.

Di luar kelas, interaksi intensif juga berlanjut dalam kehidupan sehari-hari di asrama. Kyai dan anggota keluarganya sering tinggal di lingkungan pesantren, sehingga santri memiliki akses untuk bertanya, meminta nasihat, atau sekadar berbagi cerita. Momen-momen informal ini menjadi “kelas” tambahan di mana kyai menanamkan akhlak mulia dan nilai-nilai Islam melalui teladan langsung. Adanya halaqah dan diskusi kelompok juga memperkaya interaksi, di mana santri saling belajar di bawah pengawasan kyai. Dengan demikian, metode pengajaran tradisional ini bukan hanya tentang pengajaran, tetapi juga tentang pembentukan hubungan yang kuat dan abadi antara guru dan murid, yang menjadi ciri khas pendidikan pesantren.