Kajian kitab kuning adalah jantung pendidikan pesantren tradisional, dan untuk menguasainya diperlukan metode efektif yang telah teruji lintas generasi. Metode efektif ini bukan sekadar cara belajar biasa, melainkan sebuah tradisi yang mengintegrasikan disiplin, interaksi personal, dan pemahaman mendalam. Tanpa metode efektif yang tepat, mempelajari kitab klasik yang seringkali tanpa harakat dan penuh istilah teknis bisa menjadi sangat menantang. Artikel ini akan mengupas berbagai metode yang telah membuktikan efektivitasnya dalam pembelajaran kitab kuning di pesantren.
Salah satu metode efektif yang paling fundamental adalah sorogan. Dalam metode ini, santri secara individu menghadap kiai atau ustadz, membaca kitab kuning, dan menerima koreksi serta penjelasan langsung. Interaksi satu lawan satu ini memungkinkan kiai untuk langsung mengidentifikasi kesulitan santri, memberikan bimbingan personal, dan memastikan setiap poin terserap dengan baik. Misalnya, pada Haul Kiai Haji Maimoen Zubair di Pondok Pesantren Al-Anwar, Rembang, yang diperingati setiap tanggal 26 Mei, banyak alumni yang bersaksi bahwa ketekunan dalam sorogan adalah kunci keberhasilan mereka dalam memahami seluk-beluk ilmu fikih dan tafsir.
Selain sorogan, metode bandongan (sering juga disebut wetonan) juga sangat efektif. Dalam bandongan, kiai membacakan dan menjelaskan isi kitab kepada sekelompok besar santri. Santri menyimak dan mencatat ma’na pegon (terjemahan antar baris dalam bahasa daerah dengan tulisan Arab) atau catatan penting di sela-sela atau pinggir kitab mereka. Metode ini cocok untuk kajian kitab-kitab yang lebih tebal dan membangun pemahaman umum sebelum masuk ke detail melalui sorogan. Kombinasi kedua metode ini sering diterapkan untuk memberikan pemahaman yang komprehensif.
Tidak hanya itu, hafalan nadzom (syair-syair ringkas) yang berisi kaidah-kaidah ilmu nahwu (gramatika Arab) dan sharaf (morfologi Arab) juga merupakan metode pendukung yang sangat efektif. Penguasaan nahwu dan sharaf adalah kunci untuk bisa membaca dan memahami kitab kuning secara mandiri. Lomba-lomba hafalan alfiyah Ibnu Malik (syair nahwu) sering diadakan di pesantren, menumbuhkan semangat kompetisi yang sehat. Sebagai contoh, pada Musabaqah Qira’atil Kutub (MQK) tingkat provinsi yang diadakan pada tanggal 10 Juli 2025 di Jawa Timur, para santri menunjukkan kemampuan luar biasa dalam memahami dan menjelaskan isi kitab kuning, yang tak lepas dari penguasaan berbagai metode efektif ini. Dengan kombinasi metode-metode ini, pesantren terus berhasil mencetak generasi ulama yang mumpuni dalam kajian kitab kuning.