Ponpes Dayah Darul Ilham

Mendidik dengan Ilmu, Membentuk dengan Adab

Setiap tahun, peringatan hari lahir Nabi Muhammad SAW di tanah Jawa selalu dirayakan dengan penuh kemeriahan dan kekhidmatan. Memahami filosofi di balik ritual tersebut sangatlah penting agar kita tidak hanya melihat kemeriahannya saja, melainkan menangkap pesan spiritual yang mendalam. Tradisi Sekaten merupakan salah satu bentuk akulturasi budaya yang sangat indah, di mana nilai-nilai Islam disampaikan melalui media musik gamelan yang akrab di telinga masyarakat. Kegiatan ini secara rutin diselenggarakan di dua kota utama kebudayaan Jawa, yakni Yogyakarta dan Surakarta, dengan daya tarik yang selalu memikat ribuan pengunjung setiap tahunnya.

Istilah Sekaten sendiri diyakini berasal dari kata Syahadatain, yang merupakan kalimat pengakuan tauhid dalam Islam. Filosofi di balik penamaan ini menunjukkan bahwa tujuan utama dari kegiatan ini adalah untuk mengajak masyarakat memeluk agama Islam secara sukarela. Dalam Tradisi Sekaten, alunan Gamelan Kyai Guntur Madu dan Kyai Guntur Sari menjadi daya tarik utama yang memanggil warga untuk berkumpul di halaman masjid agung. Di kota Yogyakarta dan Surakarta, momen ini digunakan oleh para sultan untuk berkomunikasi langsung dengan rakyatnya sekaligus memberikan syiar agama melalui cara yang sangat santun dan artistik.

Unsur kemasyarakatan juga menjadi bagian tak terpisahkan dari filosofi di balik setiap prosesi yang dilakukan. Misalnya, adanya pasar malam yang menyertai Tradisi Sekaten melambangkan bahwa kesejahteraan duniawi dan kebahagiaan ukhrawi harus berjalan beriringan. Para pedagang kecil hingga pengrajin tradisional dari berbagai penjuru Yogyakarta dan Surakarta berkumpul untuk menjajakan hasil bumi dan kerajinan mereka. Hal ini menciptakan perputaran ekonomi yang positif, membuktikan bahwa syiar Islam mampu memberikan dampak nyata bagi kehidupan sosial-ekonomi masyarakat luas sejak zaman dahulu hingga sekarang.

Puncak dari rangkaian kegiatan ini adalah keluarnya Gunungan atau perayaan Grebeg yang penuh dengan simbol kesuburan. Filosofi di balik Gunungan ini adalah sedekah raja kepada rakyatnya sebagai bentuk syukur kepada Allah SWT atas segala nikmat yang diberikan. Di keraton Yogyakarta dan Surakarta, tradisi memperebutkan gunungan ini melambangkan semangat rakyat dalam mengejar berkah dan kebaikan. Meskipun zaman telah berubah, nilai-nilai dalam Tradisi Sekaten tetap relevan untuk dipelihara sebagai identitas budaya yang memperkuat rasa persatuan dan kesatuan bangsa di tengah perbedaan yang ada.

Secara keseluruhan, upacara tradisional ini mengajarkan kita tentang pentingnya fleksibilitas dalam berdakwah. Filosofi di balik setiap gerak dan suara dalam ritual ini mengandung pesan harmoni antara manusia, alam, dan Pencipta. Keberlanjutan Tradisi Sekaten hingga saat ini di Yogyakarta dan Surakarta adalah bukti nyata bahwa kebudayaan asli nusantara bisa berjalan seiring dengan ajaran Islam. Kita harus terus mengapresiasi dan menjaga warisan ini agar filosofi luhur yang terkandung di dalamnya tidak hilang ditelan oleh budaya pop yang sering kali bersifat dangkal dan sementara.