Di era media sosial yang semakin terbuka, dakwah digital telah menjadi sarana yang sangat efektif bagi para santri untuk menyebarkan pesan-pesan keagamaan yang moderat. Namun, keterbukaan informasi ini juga membawa sisi gelap berupa komentar pedas dan ujaran kebencian. Para santri di Pondok Pesantren Darul Ilham, yang aktif memproduksi video penjelasan kitab maupun ceramah singkat, sering kali harus berhadapan dengan kritik netizen yang tidak jarang keluar dari batas kesantunan. Menghadapi fenomena ini membutuhkan ketangguhan mental yang luar biasa, karena serangan di dunia maya sering kali terasa lebih menyakitkan daripada perdebatan di dunia nyata.
Masalah utama yang dihadapi adalah bagaimana membedakan antara kritik yang membangun dan hate speech yang bertujuan merusak reputasi. Sering kali, konten dakwah yang disampaikan dengan niat baik justru disalahpahami atau dipotong secara sengaja oleh oknum tertentu untuk memancing keributan. Di sinilah cara santri Darul Ilham dalam merespons menjadi pembeda. Mereka dilatih untuk tidak langsung bereaksi secara emosional atau membalas kebencian dengan kebencian yang sama. Pengasuh pondok menekankan bahwa cara kita merespons komentar buruk adalah cerminan dari kedalaman ilmu dan akhlak yang kita miliki sebagai seorang penuntut ilmu agama.
Strategi pertama yang diterapkan adalah literasi digital dan manajemen media sosial yang profesional. Sebelum mengunggah sebuah konten, tim kreatif santri melakukan riset mendalam agar penyampaian materi tidak menimbulkan ambiguitas. Jika terjadi serangan berupa kata-kata kasar, mereka lebih memilih untuk melakukan moderasi komentar atau memberikan klarifikasi dengan bahasa yang sejuk dan ilmiah. Menghadapi konten dakwah yang diserang, mereka tetap konsisten menggunakan referensi kitab yang otoritatif sebagai jawaban. Hal ini bertujuan untuk mengedukasi masyarakat bahwa perbedaan pendapat dalam Islam harus disikapi dengan adab, bukan dengan caci maki di kolom komentar.
Dampak psikologis dari perundungan siber (cyber bullying) terhadap santri muda juga menjadi perhatian serius pihak pesantren. Ada kalanya santri merasa putus asa atau takut untuk terus berkarya karena lelah menghadapi hujatan. Untuk itu, Darul Ilham menyediakan sesi bimbingan konseling yang menguatkan sisi spiritual. Mereka diajarkan bahwa tantangan yang dihadapi para nabi di masa lalu jauh lebih berat daripada sekadar ketikan jari di layar gawai. Dengan memperkuat niat karena Tuhan, kritik dari manusia tidak akan lagi menjadi penghalang bagi mereka untuk terus menyebarkan kebaikan. Rasa percaya diri mereka dibangun di atas landasan kebenaran, bukan atas jumlah “like” atau pujian semu.