Ponpes Dayah Darul Ilham

Mendidik dengan Ilmu, Membentuk dengan Adab

Di tahun 2025 ini, di tengah berbagai kegiatan akademik dan keagamaan, pondok pesantren juga menjadi pusat perkembangan seni Islam yang kental dengan nuansa religi, khususnya Hadroh dan Marawis. Dua jenis musik Islami ini tidak hanya berfungsi sebagai hiburan, melainkan juga sebagai sarana dakwah, ekspresi spiritual, dan pembentuk karakter santri. Artikel ini akan mengupas bagaimana perkembangan seni Hadroh dan Marawis di lingkungan pesantren terus berevolusi, menghadirkan harmoni nada yang menyentuh hati dan menguatkan syiar Islam.

Hadroh dan Marawis adalah seni musik yang menggunakan alat perkusi seperti rebana, darbuka, tamborin, dan sejenisnya, diiringi dengan lantunan shalawat atau puji-pujian kepada Nabi Muhammad SAW. Tradisi ini telah lama mengakar di pesantren, menjadi bagian tak terpisahkan dari acara keagamaan, peringatan hari besar Islam, hingga acara penyambutan tamu. Seiring berjalannya waktu, perkembangan seni ini semakin dinamis. Aransemen musik yang lebih modern, perpaduan dengan alat musik lain seperti bass atau keyboard, serta variasi vokal yang kreatif, menjadikan Hadroh dan Marawis semakin diminati. Bahkan, banyak pesantren kini memiliki studio musik sederhana untuk menunjang latihan dan eksplorasi santri.

Melalui seni Hadroh dan Marawis, santri tidak hanya belajar bermain alat musik, tetapi juga mengasah keterampilan vokal, koordinasi, dan kerja sama tim. Mereka belajar tentang ketepatan ritme, harmoni suara, dan pentingnya kekompakan dalam sebuah grup. Lebih dari itu, perkembangan seni ini juga menanamkan kecintaan pada shalawat dan figur Nabi Muhammad SAW. Setiap lirik yang dilantunkan adalah doa dan puji-pujian yang menguatkan spiritualitas santri. Sebuah festival Hadroh tingkat nasional yang diselenggarakan oleh Kementerian Agama pada April 2025 di Jawa Timur mencatat partisipasi lebih dari 500 grup Hadroh dari berbagai pesantren di seluruh Indonesia, menunjukkan antusiasme yang tinggi.

Selain sebagai media ekspresi dan spiritual, Hadroh dan Marawis juga menjadi sarana dakwah yang efektif. Lantunan shalawat yang indah mampu menarik perhatian masyarakat, bahkan mereka yang mungkin kurang familiar dengan tradisi pesantren. Grup Hadroh dan Marawis pesantren sering diundang untuk tampil di berbagai acara di luar lingkungan pesantren, seperti pernikahan, pengajian umum, atau acara-acara peringatan hari besar Islam. Ini menjadi kesempatan bagi santri untuk berinteraksi dengan masyarakat dan menyebarkan pesan-pesan kebaikan melalui seni.

Pada akhirnya, perkembangan seni Hadroh dan Marawis di lingkungan pesantren adalah bukti bahwa tradisi bisa berinovasi tanpa kehilangan esensinya. Harmoni nada yang tercipta tidak hanya memanjakan telinga, tetapi juga menyentuh hati, menguatkan religi, dan membentuk santri menjadi pribadi yang kreatif, disiplin, dan mampu berdakwah melalui keindahan seni Islam di tahun 2025 dan masa mendatang.