Kemampuan menulis adalah jendela untuk mengabadikan pemikiran dan menyebarkan gagasan ke seluruh penjuru dunia. Dalam sejarah Islam, para ulama besar dikenal karena karya-karya tulisnya yang tetap relevan hingga berabad-abad lamanya. Mengambil semangat tersebut, Dayah Darul Ilham menginisiasi sebuah program besar yang dinamakan Gerakan Literasi. Program ini bertujuan untuk membangkitkan kembali semangat membaca dan menulis di kalangan santri, agar mereka tidak hanya menjadi pembaca kitab-kitab masa lalu, tetapi juga mampu menjadi penulis yang mewarnai pemikiran di masa kini. Literasi dipandang sebagai alat dakwah yang sangat kuat di era digital.
Di bawah bimbingan para guru yang berkompeten, Dayah Darul Ilham menyediakan fasilitas dan waktu khusus bagi santri untuk mengasah bakat menulis mereka. Literasi di sini tidak hanya terbatas pada menulis artikel atau berita singkat, tetapi juga mencakup penulisan karya sastra seperti puisi, cerpen, hingga esai ilmiah yang mendalam. Santri diajarkan cara menyusun kerangka berpikir, melakukan riset referensi, hingga teknik penyuntingan naskah yang baik. Melalui pelatihan yang konsisten, rasa percaya diri santri dalam mengekspresikan ide-ide mereka melalui tulisan mulai tumbuh pesat, menciptakan lingkungan pesantren yang kaya akan diskusi intelektual.
Salah satu pencapaian terbesar dari program ini adalah saat lembaga berhasil membantu dan memfasilitasi untuk terbitkan karya tulis para santrinya dalam bentuk buku antologi maupun majalah dinding yang dikelola secara profesional. Dengan memiliki karya yang tercetak dan bisa dibaca oleh orang lain, santri merasakan kepuasan batin yang luar biasa dan motivasi untuk terus berkarya. Buku-buku hasil karya santri ini tidak hanya beredar di lingkungan dayah, tetapi juga dipasarkan kepada masyarakat umum dan perpustakaan daerah. Hal ini menunjukkan bahwa pemikiran santri memiliki kualitas yang patut diperhitungkan dalam khazanah literasi nasional.
Peran dari para santri muda di Darul Ilham sangatlah sentral dalam menjaga keberlangsungan gerakan ini. Mereka membentuk komunitas menulis yang secara rutin mengadakan bedah buku dan pelatihan jurnalistik. Kreativitas mereka mengalir dalam berbagai tema, mulai dari pengalaman spiritual selama di pesantren, analisis masalah sosial dari sudut pandang fikih, hingga ulasan tentang teknologi masa depan. Dengan menulis, santri belajar untuk berpikir kritis dan terstruktur. Menulis juga menjadi sarana untuk melakukan refleksi diri dan memperdalam pemahaman mereka terhadap materi pelajaran yang mereka terima setiap hari di kelas.